Selasa, 28 Agustus 2012

Sintaks Model Pembelajaran Induktif

langkah-langkah model pembelajaran induktif
Bagaimana langkah-langkah model pembelajaran induktif?

Tinjauan Umum

Model pembelajaran induktif telah cukup banyak diulas pada blog ini di tulisan-tulisan sebelumnya, walaupun demikian blog penelitian tindakan kelas ini kembali akan menyuguhkan tulisan tentang model pembelajaran yang satu ini. Tulisan kali ini cukup penting untuk dibaca bila anda ingin menerapkan / merancang pembelajaran yang mengaplikasikan model pembelajaran ini. Baiklah, tanpa panjang lebar, kali ini kita akan membahas tentang sintaks / langkah-langkah / fase-fase model pembelajaran induktif.
Model pembelajaran induktif, terdiri dari 5 sintaks / fase, yaitu: (1) fase pendahuluan (lesson introduction); (2) fase open-ended; (3) fase konvergen; (4) fase closure; dan (5) fase aplikasi.

Fase pendahluan (lesson introduction)

fase pendahuluan (fase 1), guru mengatakan kepada siswa bahwa ia akan memberikan beberapa contoh. Tugas mereka adalah mencari pola-pola dan perbedaan-perbedaan yang terdapat pada contoh-contoh tersebut. Guru dapat melakukan fase pendahuluan ini dengan berbagai cara. Misalnya: “Hari ini bapak akan memberikan beberapa contoh. Bapak ingin kalian menjadi pengamat yang hebat. Observer yang teliti. Cobalah amati kira-kira kesamaan pola apakah yang terdapat pada contoh ini. Lalu apa pula perbedaan-perbedaan yang terdapat dari semua contoh itu.”

Fase open-ended

Pada fase 2, yaitu fase open ended, siswa akan memulai proses membangun (mengkonstruk, ingat konstruktivisme) pemahaman dari contoh-contoh yang disajikan. Pada fase ini guru dapat:
(1)    mempresentasikan sebuah contoh dan meminta siswa untuk mengamati dan mendeskripsikannya.
(2)    Mempresentasikan dua atau lebih contoh dan meminta siswa mencari kesamaan pola.
(3)    Mempresentasikan contoh dan noncontoh lalu meminta siswa memkontraskan/membedakannya.

Fase open-ended dicirikan oleh observasi, pendeskripsian, dan pembandingan—semua jawaban dapat diterima.

Fase konvergen

Pada fase konvergen (fase 3) guru mengarahkan jawaban-jawaban menuju tujuan pembelajaran, baik itu berupa konsep, prinsip, generalisasi, maupun aturan akademik. Mengarahkan jawaban menuju tujuan pembelajaran dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan. Bukan memberikan langsung informasi tentang konsep, prinsip, generalisasi, atau aturan akademik yang diinginkan untuk dipahami siswa. Keterampilan bertanya guru benar-benar akan diuji pada fase ini. Fase open-ended secara natural akan diikuti oleh fase konvergen, tanpa batas yang jelas.

Fase Closure

Fase 4 adalah fase closure, yang menyediakan siswa kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan berpikir tingkat tinggi di sini terkait dengan kemampuan untuk menyingkirkan informasi-informasi yang tidak relevan atau informasi nonesensial yang diperoleh saat menjawab pertanyaan-pertanyaan guru di fase 2 (fase open-ended) dan fase 3 (fase konvergen). Fase closure adalah titik di mana siswa dapat mengidentifikasi kakarteristik-karakteristik sebuah konsep, atau berhasil menyatakan prinsip, generalisasi dan aturan akademik dari contoh-contoh yang diberikan.

Fase Aplikasi

Pada Fase 5 (fase aplikasi), setelah siswa berhasil melewati fase closure, mereka harus diajak untuk merefleksikan pemahamannya tersebut pada level berikutnya. Siswa harus dapat mengaplikasikan konsep, prinsip, generalisasi, dan aturan akademik pada “dunia nyata”. Setelah tugas mengaplikasi dilakukan di kelas, guru sebaiknya memberikan latihan lanjutan dengan tugas rumah.

Beberapa tulisan sebelumnya tentang model pembelajaran induktif:

Struktur Sosial dan Peran Guru dalam Model Pembelajaran Induktif.
Perspektif Teori Tentang Model Pembelajaran Induktif.
Model Pembelajaran Induktif: Jenis-Jenis Tujuan Pembelajaran yang Dapat Dicapai.
Klasifikasi Model-Model Pembelajaran yang Didasarkan Pada Teori Pemrosesan Informasi.

Baca Selengkapnya

Sabtu, 25 Agustus 2012

Keterampilan Esensial Guru: Mengorganisasi

Mengorganisasi kelas adalah salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki oleh guru
Ada banyak keterampilan esensial yang harus dimilki oleh seorang guru efektif. Beberapa diantaranya adalah: membuka pembelajaran, keterampilan bertanya (quetioning), mereviu dan menutup pembelajaran, memusatkan perhatian siswa, memberikan umpan balik, dan mengorganisasi.

Blog sederhana tentang penelitian tindakan kelas ini angkat mencoba membahas salah satu keterampilan esensial yang harus dimilki oleh guru bila ia ingin menjadi guru yang efektif dalam melaksanakan pembelajaran, yaitu: keterampilan mengorganisasi.

Keterampilan Mengorganisasi Kelas dan Hubungannya dengan Pembelajaran

Banyak penelitian di dalam dunia pendidikan telah menunjukkan bahwa kemampuan guru untuk mengorganisasikan pembelajaran adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada pencapaian tujuan pembelajaran oleh siswa. Tercatat bahwa kemampuan manajerial guru berkorelasi positif pada proses maupun hasil pembelajaran.

Guru yang mempunyai kemampuan mengorganisasi pembelajaran akan menciptakan urutan yang efektif pada proses pembelajaran. Urutan yang tepat akan berimplikasi langsung pada waktu yang digunakan siswa untuk selalu berfokus dan terlibat aktif pada pembelajaran.Mengorganisasi di sini juga bukan berarti siswa akan duduk secara teratur dengan tenang sementara guru mengajar. Urutan dan organisasi pembelajaran yang baik akan meningkatkan motivasi belajar siswa. Bukankah kita yakin, bahwa takkan ada siswa yang termotivasi belajar pada sebuah pembelajaran yang kacau balaudan tak beraturan?

Karakteristik Guru yang Mampu Mengorganisasi Kelas

Beberapa karakteristik guru yang mempunyai keterampilan esensial mengorganisasikan kelas dapat tampak dalam bentuk seperti di bawah ini:
1. Memulai pembelajaran tepat waktu.
2. Materi ajar, alat dan bahan, atau sumber belajar telah dipersiapkan dengan matang.
3. Kegiatan rutin terjamin pelaksanaannya, misalnya, siswa segera menulis hal-hal penting yang mereka temukan/disampaikan guru tanpa harus diminta atau disuruh.
4. Mengakhiri pembelajaran tepat waktu.

Demikian bahasan mengenai keterampilan esensial guru efektif tentang mengorganisasikan pembelajaran dari blog penelitian tindakan kelas (ptk) dan model-model pembelajaran.Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya

Jumat, 24 Agustus 2012

Model Pembelajaran Induktif :Tujuan Pembelajaran yang Dapat Dicapai

Dulu sekali, blog sederhana penelitian tindakan kelas ini telah menulis tentang model pembelajaran induktif, yaitu terkait dengan: Struktur Soasial dan Peran Guru pada Model Pembelajaran Induktif, dan Perspektif Teori tentang Model Pembelajaran Induktif. Berikut ini, kami akan mencoba memperluas pembahasan tentang model pembelajaran induktif, yaitu tentang tujuan-tujuan pembelajaran yang dapat dicapai dengan menggunakan model pembelajaran ini. Sebagai pengingat saja, sebagaimana kita ketahui, tidak semua tujuan pembelajaran dapat dicapai oleh suatu model pembelajaran. Semua model pembelajaran mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran tertentu, guru harus menggunakan model pembelajaran tertentu. Begitu juga dengan model pembelajaran induktif, ada beberapa jenis tujuan pembelajaran yang dapat dicapai melalui penggunaannya dalam pembelajaran.

Model Pembelajaran Induktif dan Tujuan Pembelajaran

Model pembelajaran induktif dirancang oleh para pakar psikologi pendidikan untuk beberapa jenis tujuan pembelajaran. Tujuan pertama penggunaan model pembelajaran ini adalah membantu siswa membangun pemahaman mendalam tentang topik tertentu pada materi ajar. Yang kedua, model pembelajaran induktif dapat digunakan untuk tujuan mengaktifkan peran siswa dalam proses pembelajaran selama mereka membangun pemahaman tadi. Jadi selama mereka belajar, mereka juga melakukan aktivitas / kegiatan tertentu. Selain kedua tujuan tersebut, model pembelajaran kooperatif juga dapat memberikan capaian pada tujuan: mengajarkan keterampilan tertentu, meningkatkan rasa percaya diri siswa, dan membuat mereka lebih memahami lingkungan sekitar.

Sementara itu, bila kita cermati lebih jauh, pada tujuan untuk mengajarkan pemahaman tentang suatu topik pada materi ajar (atau tujuan terkait konten), maka tujuan pembelajaran yang dapat dicapai dapat diklasifikasikan sebagaimana bagan berikut:
model pembelajaran induktif dan tujuan pembelajaran
Jenis-jenis tujuan pembelajaran dengan model pembelajaran induktif

Demikian ulasan mengenai tujuan-tujuan pembelajaran yang dapai dicapai melalui penerapan model pembelajaran induktif di blog penelitian tindakan kelas (ptk) dan model-model pembelajaran ini. Semoga bermanfaat bagi anda yang mungkin ingin/sedang mencoba menggunakan model pembelajaran ini di kelas, atau barangkali sebagai bahan bacaan saat anda melakukan penelitian tindakan kelas terkait model pembelajaran induktif. :)
Baca Selengkapnya

Klasifikasi Model-Model Pembelajaran yang Didasarkan pada Teori Pemrosesan Informasi

Setelah libur Idul Fitri, blog sederhana http://penelitiantindakankelas.blogspot.com kembali mencoba mengangkat tulisan tentang model-model pembelajaran. Kali ini yang coba dibahas adalah klasifikasi model-model pembelajaran / model pengajaran yang didasarkan pada Teori Pemrosesan Informasi (Information-Processing Theory).

Teori Pemrosesan Informasi (Information-Processing Theory)

Baik, sebelum kita mulai ada baiknya kita tahu dulu apa itu Teori Pemrosesan Informasi. Teori tentang pemrosesan informasi muncul ketika adanya kekurangpuasan terhadap Teori Behaviorisme / Teori Behavioristik (Teori Tingkah Laku). Para Bersama berkembangnya teori ini, muncul pula istilah psikologi pemrosesan informasi.ahli behaviorisme mendeskripsikan belajar sebagai "pengkondisian" atau "stimulus-respon". Contohnya, pertanyaan yang dilontarkan oleh guru merupakan "stimulus" dan suatu jawaban yang diingat oleh siswa adalah "respon". Ketidakpuasan terhadap Teori Behaviorisme muncul ketika siswa dianggap pasif secara mental, padahal pada kenyataannya mereka harus merestrukturisasi (merekonstruksi) informasi yang mereka peroleh agar dapat bertahan di memori mereka. Karena itu, para ahli psikologi ini kemudian beranggapan bahwa yang paling penting bukanlah "stimulus" dan, atau "respon" itu, melainkan justru proses yang terjadi secara mental untuk membuat informasi itu melekat di dalam sistem memori. Nah, inilah yang menjadi cikal bakal Teori Pemrosesan Informasi (Information-Processing Theory).

Klasifikasi Model Pembelajaran

Oke, kembali ke judul, bahwa kali ini kami akan menuliskan tentang klasifikasi model-model pembelajaran/ model pengajaran yang didasarkan pada Teori Pemrosesan Informasi. Klasifikasi tersebut adalah sebagai berikut, sebagaima yang ditulis Eggen dan Kauchak, 1996 dalam bukunya Strategies for Teachers:
Model Pembelajaran Berdasarkan Teori Pemrosesan Informasi:
1. Inductive Models (Model-Model Pembelajaran /Model-Model Pengajaran Induktif), misalnya:
  • Model Pembelajaran Induktif (The Inductive Model)
  • Model Penguasaan Konsep (The Concept Attainment Model)
  • Model Pembelajaran Integratif (The Integrative Model)
2. Deductive Models (Model-Model Pembelajaran /Model-Model Pengajaran Deduktif), misalnya:
  • Model Pengajaran Langsung untuk Mengajarkan Keterampilan Prosedural (Direct Instruction Procedural Skills Model)
  • Model Pengajaran Langsung bentuk Ceramah atau Diskusi (Direct Instruction Lecture Discussion Model)
klasifikasi model pembelajaran berdasarkan teori pemrosesan informasi
Teori Pemrosesan Informasi

3. Inquiry Models (Model-Model Pembelajaran /Model-Model Pengajaran Inkuiri), misalnya:
  • Model Pembelajaran Inkuiri-Umum (The General Inquiry Model)
  • Model Pembelajaran Inkuiri-Suchman (The Suchman Inquiry Model)
4. Cooperative Models (Model-Model Pembelajaran Kooperatif), misalnya:
  • STAD (Student Teams Achievement Divisions)
  • Jigsaw II
Demikian klasifikasi model-model pembelajaran berbasis Teori Pemrosesan Informasi menurut Kauchak dan Eggen (1996), di mana model-model pembelajaran tersebut kesemuanya dirancang untuk membantu siswa mempelajari materi ajar sekaligus melatihkan keterampilan-keterampilan berpikir (thinking skills), khususnya keterampilan berpikir pada tingkat tinggi (higher order thinking skills), dibawah arahan dan bantuan guru.
Baca Selengkapnya

Selasa, 21 Agustus 2012

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif Anak

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif Anak

Menurut Piaget, perkembangan kognitif yang terdiri dari 4 periode sebagaimana telah ditulis pada postingan sebelumnya di blog http://penelitiantindakankelas.blogspot.com ini sebelumnya, dipengaruhi oleh paling tidak 4 (empat) faktor. Kelima faktor tersebut adalah sebagai berikut:

#1 KEMATANGAN
Kematangan perkembangan sistem saraf pusat, otak, koordinasi motorik, perubahan fisiologis dan anatomis sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif seorang anak.

faktor-faktor yang berpengaruh pada perkembangan kognitif
Apa saja faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif anak?

#2 PENGALAMAN FISIK
Bila seorang anak berinteraksi dengan lingkungannya, maka anak tersebut akan memperoleh pengalaman fisik. Pengalaman fisik ini memungkinkan anak mengembangkan aktivitas dan gaya otak sehingga mereka akan mentransfernya ke dalam bentuk suatu gagasan atau ide. Pengalaman fisik ini kemudian dapat mereka kembangkan menjadi logika matematika. Pengalaman fisik dapat berasal dari kegiatan seperti meraba, memegang, melihat, mendengar, sehingga berkembang menjadi kegiatan berbicara, membaca, dan berhitung.

#3 PENGALAMAN SOSIAL
Ketika anak melakukan interaksi sosial, maka mereka akan memperoleh pengalaman sosial. Interaksi sosial bisa dalam bentuk bertukar gagasan atau pendapat dengan orang lain, percakapan dengan teman sebaya, perintah yang diberikan orang yang lebih tua atau dewasa, membaca, atau bentuk kegiatan lainnya. Bila anak berinteraksi dengan orang lain, maka secara perlahan-lahan sifat egosentris mereka akan berkurang. Mereka akan mulai menyadari bahwa suatu gejala dapat didekati dan dimengerti dengan berbagai cara. Melalui diskusi dengan orang lain, anak akan memperoleh pengalaman mental yang bagus. Lalu, dengan pengalaman mental inilah otak mereka dapat bekerja dengan cara-cara baru untuk menyelesaikan masalah. Pengalaman sosial juga sangat dibutuhkan oleh anak untuk mengembangkan konsep-konsep penting seperti kejujuran, etika, moral, kerendahan hati, dsb.

#4 KESEIMBANGAN
Untuk mencapai suatu tingkatan kognitif tertinggi, maka anak memerlukan keseimbangan. Sebuah keseimbangan akan dapat mereka capai melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah suatu proses yang berkaitan dengan pemerolehan informasi dari lingkungan dan menggabungkannya dengan bagan struktur konsep yang telah mereka miliki. Sedangkan proses akomodasi di sini berkaitan dengan proses pemodifikasian bagan struktur konsep untuk menerima informasi baru. Dalam prosesnya, suatu stimlus yang didapat anak dari lingkungan dapat mengganggu suatu keseimbangan, tetapi dengan suatu respon anak dapat mengembalikan keseimbangan, yaitu melalui kedua proses tersebut di atas: asimilasi dan akomodasi.

#5 ADAPTASI
Anak, sebagai hasil adaptasi dengan lingkungannya, akan secara progresif menunjukkan interaksi dengan lingkungan secara lebih rasional.

Baca Selengkapnya

Perkembangan Kognitif (Intelektual) Anak

Tinjauan Umum

Mengenali siapa anak didik kita, dan berada pada tingkatan/ tahapan kognitif mana mereka amatlah penting. Pembelajaran yang dilaksanakan seorang guru tid k akan efektif apabila ia samasekali buta tentang karakteristik peserta didiknya. Tulisan di blog http://penelitiantindakankelas.blogspot.com kali ini mencoba mengangkat tentang karakteristik peserta didik/ anak ditinjau dari aspek perkembangan kognitifnya.

Jean Piaget adalah seorang ahli psikologi yang berasal dari Swiss. Hasil penelitiannya amat populer dan menjadi landasan teori kognitif. Pada dasarnya Piaget membagi perkembangan kognitif/ intelektual/ mental anak ke dalam empat (4) periode, yaitu: (1) tahap sensori-motor; (2) tahap pra-operasional; (3) tahap operasional konkret; dan (4) tahap operasional formal.

Tahapan perkembangan kognitif sebagaimana perkembangan fisik selalu mengikuti tahapan perkembangan yang ada. Hanya saja irama perkembangan dan kecepatannya berbeda-beda pada masing-masing anak. Interval umur yang diberikan oleh Piaget seperti tercantum pada tabel di bawah hanyalah berupa acuan umum saja. Berikut perincian dari keempat periode/ tahapan perkembangan kognitif anak tersebut:

Tabel Tahapan Perkembangan Kognitif (Intelektual) Anak

Periode Sifat-sifat Perubahan yang tampak

1. sensori-motor (0 -2 tahun)

Stimulus bound, dimana anak berinteraksi dengan stimulus dari luar. Lingkungan dan waktu terbatas, kemudian berkembang sampai dapat berimajinasi. Konsep tentang benda berkembang, mengembangkan tingkah laku baru, kemampuan untuk meniru. Ada usaha untuk berpikir. Gerakan tubuh merupakan aksi dari refleks, merupakan eksperimen dengan lingkungannya.

2. pra-operasional (2 – 7 tahun)

Belum sanggup melakukan operasi mental. Belum dapat membedakan antara permainan dengan kenyataan, atau belum dapat mengembangkan struktur rasional yang cukup. Masa transisi antara struktur sensori motor ke berpikir operasional. Sifat egosentris baru akan berkembang bila anak banyak berinteraksi sosial. Konsep tentang ruang dan waktu mulai bertambah. Bahasa mulai dikuasai.

3. operasional konkret (7 – 11 tahun)

Berpikir konkret, karena daya otak terbatas pada objek melalui pengamatan langsung. Dapat mengembangkan operasi mental, seperti menambah, mengurangi. Mulai mengembangkan struktur kognitif berupa ide atau konsep. Melakukan operasi logika dengan pola berpikir masih konkret. Tidak egosentris lagi. Berpikir tentang objek yang berhubungan dengan berat, warna, dan susunan. Melakukan aktivitas yang berhubungan dengan objek. Membuat keputusan logis.

4. operasional formal (11 tahun ke atas)

Pola berpikir sistematis, meliputi proses yang komplek. Pola berpikir abstrakdengan mempergunakan logika matematika. Pengertian tentang konsep waktu dan ruang telah meningkat secara signifikan. Anak telah mengerti tentang pengertian tak terbatas, alam raya dan angkasa luar.
Baca Selengkapnya

Minggu, 12 Agustus 2012

Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation

Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation

Jika anda tertarik untuk mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation (GI) di dalam kelas anda, atau barangkali sedang melakukan penelitian tindakan kelas / ptk tentang model pembelajaran kooperatif yang satu ini, maka sebaiknya anda cermati sintaks atau langkah-langkah/fase-fase model pembelajaran ini. Ada 5 (lima) sintaks /langkah/fase penting dalam model pembelajaran kooperatif tipe group investigation, yaitu:

Fase 1: menggorganisasikan kelompok-kelompok kooperatif dan mengidentifikasi topik

Kedua tugas yang disebut di atas urutannya dapat bervariasi, sesuai dengan situasi. Guru dapat terlebih dahulu mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok kooperatif sebelum mengidentifikasi topik pembelajaran, atau sebaliknya terlebih dahulu mengidentifikasi topik, baru kemudian mengorganisasikan siswa ke kelompok-kelompok. Bergantung pada topik yang dipilih pada fase 1, maka adalah sangat penting untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat membangun kekompakan tim (kelompok), sehingga terbentuk solidaritas dan kohesi antar anggotanya. Perlu dicatat bahwa model pembelajaran kooperatif tipe group investigation ini merupakan sebuah model pembelajaran yang kompleks, yang berbeda sama sekali dengan model pembelajaran kooperatif lainnya, di mana tingkat kooperasi antar anggota kelompok harus benar-benar baik dan efektif. Agar apa-apa yang dilakukan oleh kelompok bermanfaat dan efektif, maka setiap anggota kelompok harus produktif dan mempunyai hubungan kooperasi yang baik satu sama lain.

Fase 2: Perencanaan Kelompok

Selama fase perencanaan kelompok, siswa harus menentukan batasan/cakupan penyelidikan mereka, mengevaluasi sumber daya yang mereka miliki, merencanakan suatu aksi/tindakan, dan menugaskan /memberikan tanggung jawab yang berbeda kepada setiap anggota kelompok. Pada model pembelajaran kooperatif yang lain, perencanaan kelompok jauh lebih mudah dibanding perencanaan kelompok pada group investigation. Bila semua anggota kelompok menyelidiki topik yang sama, tugas utama mereka pada fase ini adalah menentukan bagaimana cara membagi informasi dasar yang telah mereka miliki masing-masing. Jika anggota-anggota kelompok bertugas sendiri-sendiri untuk menyelidiki sub-sub topik, maka keputusan penting  pada fase perencanaan ini adalah bagaimana mereka seharusnya berkoordinasi, dan membagi tugas siapa yang akan bertanggungjawab terhadap informasi dasar, siapa yang mengumpulkan data, siapa yang menganalisis, siapa yang mengkombinasikan sub-sub proyek menjadi suatu keutuhan, serta siapa yang akan menulis laporan. Tugas-tugas demikian tentu amat rumit dan tidak dapat dibagi secara tegas.

Fase 3: Mengimplementasikan penyelidikan (investigasi)

Kelompok-kelompok yang telah terorganisasi dengan baik pada fase 2, dan topik yang telah diidentifikasi pada fase 1, serta telah mempunyai rencana pemecahan masalah selanjutnya siap memasuki fase 3. Pada fase ini setiap kelompok akan mengimplementasikan penyelidikan/inkuiri. Biasanya fase 3 ini memerlukan waktu lebih panjang dari fase lainnya. Setiap kelompok memerlukan banyak waktu untuk mendesain prosedur pengambilan data, mengambil data, menganalisis, dan mengevaluasi data, dan mengambil kesimpulan. Menjaga agar setiap kelompok dan anggota-anggotanya bekerja secara efektif dan produktif, dapat saja sulit dilakukan karena kadang-kadang setiap sub-proyek/proyek penyelidikan berbeda kebutuhan waktunya. Laporan-laporan kemajuan setiap kelompok terhadap sub proyek/proyek penyelidikan mereka sangat penting pada fase iniagar guru dapat mengkoordinasikan usaha-usaha setiap kelompok dalam memecahkan masalah melalui penyelidikan mereka masing-masing.

Fase 4: Mengalasis hasil penyelidikan dan menyiapkan laporan

Saat siswa mengumpulkan informasi, maka informasi tersebut perlu dianalisis dan dievaluasi. Guru dapat membantu proses ini dengan beberapa cara. Salah satunya adalah dengan secara kontinyu memfokuskan perhatian setiap kelompok pada pertanyaan atau masalah yang sedang diselidiki. Pada penyelidikan-penyelidikan yang panjang, siswa dapat saja kehilangan arah terhadap fokus pembelajaran/studi mereka. Cara lain untuk membantu siswa adalah dengan membantu mereka menganalisis hasil dengan meminta mereka agar selalu membagi penemuan-penemuan mereka terhadap anggota-anggota kelompoknya. Atau, guru dapat pula meminta siswa bereksperimen dengan berbagai cara dalam memberikan display data, bentuk diagram, dan tabel-tabel, sehingga setiap anggota dapat memahami hubungan antar data yang telah mereka kumpulkan.

Fase 5: Mempresentasikan hasil penyelidikan

Pada fase kelima ini ada dua tujuan yang harus dilakukan. Pertama adalah mendesiminasikan informasi; yang kedua mengajarkan kepada siswa bagaimana mempresentasikan informasi dengan jelas dan dengan cara yang menarik. Format fase terakhir ini dapat sangat bervariasi, misalnya: presentasi untuk seluruh kelas; presentasi untuk sebagian kelas saja; presentasi dalam bentuk poster; demonstrasi; presentasi melalui rekaman video; atau satasiun pusat belajar. Tugas siswa pada fase kelima ini amat bergantung pada jenis informasi itu sendiri, jenis audiens, dan pembuatan presentasi informasi secara menarik. Tugas-tugas pada fase kelima ini sangat berguna bagi hidup mereka kelak ketika terjun langsung ke masyarakat, dan sering tidak dipelajari pada kelas-kelas konvensional/tradisional.
Baca Selengkapnya